Sabtu, 20 September 2014

Manusia sebagai Unit


Wanita-wanita telanjang yang digiring masuk ruang gas Zyklon D, tempat
sehari 10 ribu orang bisa dibunuh (Auschwitz, 1941-1944), tetap terpisah dari lakilaki
telanjang yang mengalami nasib sama. Tata susial tetap diperhatikan, dan Fritz
Lang alias Rudolf Hoess justru diilih Himmler sebagai arsitek pembunuhan massal
karena Lang punya ein rigoroses Gewissen, keyakinan susila yang kuat. Lang –
menurut profil dari Kotulla dalam Aus einem Deutschen Leben – menccoba lari tiga
kali ke medan pertempuran, tapi ditolak karena masih terlalu muda; diusir dari pabrik
oleh teman-temannya karena bekerja terlalu keras; dan mencintai tanah airnya
demikian rupa sehingga ddengan hati dingin menembak seorang veteran Perang
Dunia Pertama yang membela Republik Weimar.
Dalam ideologi Nazi, sang Hoess bisa berkembang sempurna karena justru
ideologi Hitler menggabungkan kekejaman tak tertabas dengan patriotisme yang
kuat. Kalau Himmler menyuruh engkau membunuh anakmu sendiri (begitulah
pertanyaan istri Rudolf Hoess alias Fritz Lang, kepada suaminya) apakah engkau
membunuh anak itu? Naturlich, kata suaminya. Tanpa ragu-ragu –perintah ialah
perintah.
Sesudah drama selesai, dan Hoess ditangkap, dipenjarakan dan diinterogasi
opsir Amerika, dia ditanya sudah yakinkah dia bahwa pembunuhan empat juta orang
di Auschwitz suatu kesalahan. Sang penjahat menjadi ragu-ragu, dan mengatakan
mungkin. Mengapa salah, begitu pertanyaan opsir. Sebab Himmler membunuh diri;
artinya, dia bukan pemimpin yang baik, sehinga waktu mengatakan pembunuhan
Yahudi hal yang baik, mungkin dia bohong.
Memang sulit menerangkan distorsi kata hati yang begitu besar. Haruskah
Eichmann, Hoess, dan Himmler dianggap sebagai pembunuh keji dan penjahat
besar? Empat juta anak, wanita, dan laki-laki yang dilikuidasi dalam industri maut
yang berorganisasi baik, bukan perkara kecil. Kalau orang harus diadili berdasar
keyakinannya sendiri, Lang memang tidak salah. Eichmann melihat dirinya sendiri
seorang ahli tata buku yang yang mengorganisasikan transpor berjuta orang ke pusatpusat
pembunuhan. Lang merasa dirinya seorang tehnikus yang mendapat ilham
yang baik; membunuh orang tidak dengan dinamit (yang dicoba), melainkan gas.
Himmler, sang Reichsfuehrer, menurut pendapatnya sendiri, seorang ahli politik
yang melaksanakan perintah kepala negara. Perintah ialah perintah, Befehl ist Befehl.
Memang, orang harus memperhatikan jiwa orang Jerman yang dulu dididik
dalam suasana patriarkal yang kuat; tapi tetap muncul soal: bagaimana kejahatan
besar menjadi mungkin?
Salah satu hal yang penting ialah segi bahasa. Para korban buakn manusia,
melainkan unit-unit. Pembunuhan bukan pembunuhan, melainkan likuidasi, dan cra
pembunuhan bukan kejahatan, melainkan organisasi teknis. Lang diobsesi angkaangka.
Dalam film buatan Kotulla, dengan sangat baik diperlihatkan pembunuh yang
sampai larut malam mempelajari angka-angka dari para unit supaya ada suatu ukuran
baik bagi mutu likuidasi.
Kalau wajah korban dilihat, permainan rusak (Levinas: muka manusia). Dalam
karya seni buatan Kotulla, kita melihat suatu adegan: Himmler mengunjungi
Auschwitz. Seorang laki-laki –dengan muka seorang dokter atau rohaniwan—
melihat muka Himmler dan Himmler melihat sang korban. Sebentar Himmler
melihat seorang manusia, dan sebentar menjadi bingung. Dengan segera sang korban
menjadi unit kembali, dan organisasi diselamatkan. Pembunuhan –likuidasi—bisa
diteruskan.
Levinas, yang sendiri berada di antara para korban teror Nazi, berpendapat
bukan to on (hal mengada) merupakan entitas dasar dari ciptaan ilahi. Melainkan
muka manusia, yang menghindarkan segala keterangan. Bagi pembunuh massal, hal
semacam itu harus dihindari. Hanya orang yang dicap murtad bisa dibakar
(inquisitio); hanya pemuda yang dicap ateis (pembunuhan 1965) bisa dipotong
lehernya; hanya anak yang dirubah menjadi unit bisa digas. Kalau dalam pengajaran
sejarah dikatakan Hitler membunuh tujuh juta Yahudi, tidak ada satu mahasiswa
yang menjadi dingin atau panas. Tujuh juta bukan tragedi; tujuh juta hanya statistik.
Umat manusia sibuk mempersiapkan pembunuhan yang paling besar yang pernah
direncanakan. Alat bukan api, pisau, atau gas; yang dipergunakan ialah atomic
energy.
Dalam analisa kegilaan itu, Robert Jay Lifton memakai teori reprsei Sigmund
Freud untuk menerangkan kemungkinan psikosis itu. The use of nuclear weapon
goes beyond political and military considerations. Pemakian tenaga nuklir untuk
pembunuhan lebih dari soal politik atau militer saja. Bagi Lifton barangkali; tapi
tidak bagi Reagan atau Andropov cs. Mereka hanya melihat unit yang harus
dilikuidasi. Memang benar, represi memegang peranan dalam kegilaan itu;
malapetaka begitu besar sehingga kita tidak tahu apa-apa tentang soal itu, juga tidak
ingin tahu soal itu. Menutup mata di muka hantu bukan reaksi anak saja –itulah
reaksi kita semua.
Tapi kalau dunia akan hancur dengan likuidasi berdasar advanced technology,
itu tidak hanya mungkin berdasar represi. Yang paling penting ialah perubahan
typefication (pengecatan) bahasa. Kalau Anne Frank bukan gadis cantik dan lemah
lembut, tapi diubah menjadi suatu unit, dia gampang dilikuidasi. Kalau kita melihat
tata buku Eichmann dan Hoess, hati kita tetap dingin; yang dilihat ialah unit dan
statistik. Baru waktu orang melihat bukit sepatu-sepatu kecil yang ditinggalkan anakanak
yang dibunuh di Teresienstadt, kita sekonyong insaf bahwa unit-unit bisa
ketawa dan menangis.
Pengecapan bahasa, menurut Berger, penting sekali; karena dengan bicara
manusia menciptakan realitas. Makhluk yang diberi nama ayah tidak hanya disebut
ayah, melainkan dialah ayah. Makhluk yang disebut Fuehrer tidak hanya mendapat
nama baru tapi berubah sehingga bisa menghilangkan 50 juta orang dari muka bumi.
Seorang dokter, ulama, insinyur, pegawai, atau guru yang disebut unit berubah dan
gampang dilikuidasi. Kalau sesudah ledakan nuklir masih ada orang yang bisa
menganalisa kejadian itu, dan penuh heran bertanya bagaimana mungkin manusia
sebagai animal rationale menghancurkan dirinya sendiri, justru segi bahasa kegilaan
itu harus diperhatikan.
Bahasa bukan hanya omong. Bahasa ialah penciptaan realitas. Karena itu,
permainan dengan kemerdekaan pers begitu dahsyat. Sensor, atau pers bertanggung
jawa, atau penjajahan media, ialah serangan langsung atas realittas. Dunia ketiga
cukup acuh tak acuh terhadap persenjataan nuklir. Mungkin berpendapat luput dari
kehancuran itu, sehingga harga karet lebih dipentingkan dari nasib generasi yang
akan datang. Pengecapan palsu pers langsung bertanggung jawab untuk sikap itu.
Kalau Reagan datang dia akan disambut dengan banyak epiteta ornantia. Mungkin
lebih baik dengan otak dingin menilai realitas yang nyata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar