Sabtu, 20 September 2014

Manusia sebagai Unit


Wanita-wanita telanjang yang digiring masuk ruang gas Zyklon D, tempat
sehari 10 ribu orang bisa dibunuh (Auschwitz, 1941-1944), tetap terpisah dari lakilaki
telanjang yang mengalami nasib sama. Tata susial tetap diperhatikan, dan Fritz
Lang alias Rudolf Hoess justru diilih Himmler sebagai arsitek pembunuhan massal
karena Lang punya ein rigoroses Gewissen, keyakinan susila yang kuat. Lang –
menurut profil dari Kotulla dalam Aus einem Deutschen Leben – menccoba lari tiga
kali ke medan pertempuran, tapi ditolak karena masih terlalu muda; diusir dari pabrik
oleh teman-temannya karena bekerja terlalu keras; dan mencintai tanah airnya
demikian rupa sehingga ddengan hati dingin menembak seorang veteran Perang
Dunia Pertama yang membela Republik Weimar.
Dalam ideologi Nazi, sang Hoess bisa berkembang sempurna karena justru
ideologi Hitler menggabungkan kekejaman tak tertabas dengan patriotisme yang
kuat. Kalau Himmler menyuruh engkau membunuh anakmu sendiri (begitulah
pertanyaan istri Rudolf Hoess alias Fritz Lang, kepada suaminya) apakah engkau
membunuh anak itu? Naturlich, kata suaminya. Tanpa ragu-ragu –perintah ialah
perintah.
Sesudah drama selesai, dan Hoess ditangkap, dipenjarakan dan diinterogasi
opsir Amerika, dia ditanya sudah yakinkah dia bahwa pembunuhan empat juta orang
di Auschwitz suatu kesalahan. Sang penjahat menjadi ragu-ragu, dan mengatakan
mungkin. Mengapa salah, begitu pertanyaan opsir. Sebab Himmler membunuh diri;
artinya, dia bukan pemimpin yang baik, sehinga waktu mengatakan pembunuhan
Yahudi hal yang baik, mungkin dia bohong.
Memang sulit menerangkan distorsi kata hati yang begitu besar. Haruskah
Eichmann, Hoess, dan Himmler dianggap sebagai pembunuh keji dan penjahat
besar? Empat juta anak, wanita, dan laki-laki yang dilikuidasi dalam industri maut
yang berorganisasi baik, bukan perkara kecil. Kalau orang harus diadili berdasar
keyakinannya sendiri, Lang memang tidak salah. Eichmann melihat dirinya sendiri
seorang ahli tata buku yang yang mengorganisasikan transpor berjuta orang ke pusatpusat
pembunuhan. Lang merasa dirinya seorang tehnikus yang mendapat ilham
yang baik; membunuh orang tidak dengan dinamit (yang dicoba), melainkan gas.
Himmler, sang Reichsfuehrer, menurut pendapatnya sendiri, seorang ahli politik
yang melaksanakan perintah kepala negara. Perintah ialah perintah, Befehl ist Befehl.
Memang, orang harus memperhatikan jiwa orang Jerman yang dulu dididik
dalam suasana patriarkal yang kuat; tapi tetap muncul soal: bagaimana kejahatan
besar menjadi mungkin?
Salah satu hal yang penting ialah segi bahasa. Para korban buakn manusia,
melainkan unit-unit. Pembunuhan bukan pembunuhan, melainkan likuidasi, dan cra
pembunuhan bukan kejahatan, melainkan organisasi teknis. Lang diobsesi angkaangka.
Dalam film buatan Kotulla, dengan sangat baik diperlihatkan pembunuh yang
sampai larut malam mempelajari angka-angka dari para unit supaya ada suatu ukuran
baik bagi mutu likuidasi.
Kalau wajah korban dilihat, permainan rusak (Levinas: muka manusia). Dalam
karya seni buatan Kotulla, kita melihat suatu adegan: Himmler mengunjungi
Auschwitz. Seorang laki-laki –dengan muka seorang dokter atau rohaniwan—
melihat muka Himmler dan Himmler melihat sang korban. Sebentar Himmler
melihat seorang manusia, dan sebentar menjadi bingung. Dengan segera sang korban
menjadi unit kembali, dan organisasi diselamatkan. Pembunuhan –likuidasi—bisa
diteruskan.
Levinas, yang sendiri berada di antara para korban teror Nazi, berpendapat
bukan to on (hal mengada) merupakan entitas dasar dari ciptaan ilahi. Melainkan
muka manusia, yang menghindarkan segala keterangan. Bagi pembunuh massal, hal
semacam itu harus dihindari. Hanya orang yang dicap murtad bisa dibakar
(inquisitio); hanya pemuda yang dicap ateis (pembunuhan 1965) bisa dipotong
lehernya; hanya anak yang dirubah menjadi unit bisa digas. Kalau dalam pengajaran
sejarah dikatakan Hitler membunuh tujuh juta Yahudi, tidak ada satu mahasiswa
yang menjadi dingin atau panas. Tujuh juta bukan tragedi; tujuh juta hanya statistik.
Umat manusia sibuk mempersiapkan pembunuhan yang paling besar yang pernah
direncanakan. Alat bukan api, pisau, atau gas; yang dipergunakan ialah atomic
energy.
Dalam analisa kegilaan itu, Robert Jay Lifton memakai teori reprsei Sigmund
Freud untuk menerangkan kemungkinan psikosis itu. The use of nuclear weapon
goes beyond political and military considerations. Pemakian tenaga nuklir untuk
pembunuhan lebih dari soal politik atau militer saja. Bagi Lifton barangkali; tapi
tidak bagi Reagan atau Andropov cs. Mereka hanya melihat unit yang harus
dilikuidasi. Memang benar, represi memegang peranan dalam kegilaan itu;
malapetaka begitu besar sehingga kita tidak tahu apa-apa tentang soal itu, juga tidak
ingin tahu soal itu. Menutup mata di muka hantu bukan reaksi anak saja –itulah
reaksi kita semua.
Tapi kalau dunia akan hancur dengan likuidasi berdasar advanced technology,
itu tidak hanya mungkin berdasar represi. Yang paling penting ialah perubahan
typefication (pengecatan) bahasa. Kalau Anne Frank bukan gadis cantik dan lemah
lembut, tapi diubah menjadi suatu unit, dia gampang dilikuidasi. Kalau kita melihat
tata buku Eichmann dan Hoess, hati kita tetap dingin; yang dilihat ialah unit dan
statistik. Baru waktu orang melihat bukit sepatu-sepatu kecil yang ditinggalkan anakanak
yang dibunuh di Teresienstadt, kita sekonyong insaf bahwa unit-unit bisa
ketawa dan menangis.
Pengecapan bahasa, menurut Berger, penting sekali; karena dengan bicara
manusia menciptakan realitas. Makhluk yang diberi nama ayah tidak hanya disebut
ayah, melainkan dialah ayah. Makhluk yang disebut Fuehrer tidak hanya mendapat
nama baru tapi berubah sehingga bisa menghilangkan 50 juta orang dari muka bumi.
Seorang dokter, ulama, insinyur, pegawai, atau guru yang disebut unit berubah dan
gampang dilikuidasi. Kalau sesudah ledakan nuklir masih ada orang yang bisa
menganalisa kejadian itu, dan penuh heran bertanya bagaimana mungkin manusia
sebagai animal rationale menghancurkan dirinya sendiri, justru segi bahasa kegilaan
itu harus diperhatikan.
Bahasa bukan hanya omong. Bahasa ialah penciptaan realitas. Karena itu,
permainan dengan kemerdekaan pers begitu dahsyat. Sensor, atau pers bertanggung
jawa, atau penjajahan media, ialah serangan langsung atas realittas. Dunia ketiga
cukup acuh tak acuh terhadap persenjataan nuklir. Mungkin berpendapat luput dari
kehancuran itu, sehingga harga karet lebih dipentingkan dari nasib generasi yang
akan datang. Pengecapan palsu pers langsung bertanggung jawab untuk sikap itu.
Kalau Reagan datang dia akan disambut dengan banyak epiteta ornantia. Mungkin
lebih baik dengan otak dingin menilai realitas yang nyata.

Senin, 15 September 2014

perubahan: asal usul penindasan perempaun

perubahan: asal usul penindasan perempaun: Asal-usul Penindasan Perempuan Perempuan berderajat lebih rendah daripada laki-laki - inilah anggapan umum yang berlaku sekarang i...

perubahan: asal usul penindasan perempaun

perubahan: asal usul penindasan perempaun: Asal-usul Penindasan Perempuan Perempuan berderajat lebih rendah daripada laki-laki - inilah anggapan umum yang berlaku sekarang i...

perubahan: laporan pkl (pengemasan pada udang windu

perubahan: laporan pkl (pengemasan pada udang windu: LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN (PKL) PENANGANAN PANEN   PADA BENUR UDANG WINDU ( Penaeus monodon ) DI BALAI BUDIDAYA AIR PAYAU ...

Sabtu, 13 September 2014

laporan pkl (pengemasan pada udang windu


LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN (PKL)

PENANGANAN PANEN  PADA BENUR UDANG WINDU (Penaeus monodon )
DI BALAI BUDIDAYA AIR PAYAU (BBAP) TAKALAR
SULAWESI SELATAN


Oleh

ABDULRAHMAN SAPO
NIM: 631410040




                                               








PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN
JURUSAN TEHNOLOGI PERIKANAN
FAKULTAS ILMU-ILMU PERTANIAN
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2014 


 BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Pengembangan budidaya air payau di Indonesia untuk waktu yang akan datang sangat penting bagi pembangunan di sektor perikanan, karena di Indonesia perikanan merupakan salah satu sumber devisa Negara yang sangat potensial.  serta merupakan salah satu prioritas yang diharapkan menjadi sumber pertumbuhan di sektor perikanan.
Berbagai upaya telah dilakukan dalam meningkatkan produksi udang windu. diantaranya adalah penerapan sistem budidaya udang windu secara intensif yang dimulai sejak pertengahan tahun 1986. Udang windu (Penaeus monodon ) merupakan komoditas unggulan Indonesia dalam upaya menghasilkan devisa negara dari eksport nonmigas
Semakin kurangnya ketersediaan induk dan benih udang windu di laut ditambah adanya Keputusan Presiden tentang larangan penggunaan pukat harimau (trawl) menyebabkan semakin turunnya produksi udang hasil tangkapan, sehingga produksi udang dari hasil budidaya harus ditingkatkan. Telah disadari bahwa peningkatan produksi udang melalui budidaya tersebut hanya dapat dicapai bila disuplai faktor-faktor produksi, khususnya benih udang dapat terjamin sepenuhnya. Pengembangan teknik-teknik pembenihan udang harus terus dilakukan untuk menunjang kegiatan budidaya udang windu.
Perkembangan budidaya udang windu sendiri telah mengalami kemajuan yang sangat pesat, hal ini didukung oleh usaha budidaya yang intensif dengan teknologi yang sudah dikuasai, harga yang tinggi dipasar lokal maupun internasional dan peluang yang luas telah membuat udang windu menjadi komoditas harapan bagi para pengusaha sehingga banyak yang berani menanamkan modal bisnis udang windu ini. (Anonim,2014)
Kegiata panen adalah tahap akhir yang di lakukan oleh pembudidaya udang windu, kegiatan panen yang di lakukan berupa panen selektif yang mana hanya sebagian tidak secara menyeluruh, biasanya dalam melakukan panen harus memiliki persiapan panen dan paska panen.

1.2  Tujuan
Adapun tujuan pelaksanaan PKL (Praktek Kerja Lapangan) ini adalah
1.      Untuk mengetahui persiapan panen benur.
2.      Untuk mengetahui proses pelaksanaan panen benur.
3.      Untuk mengetahui penanganan pasca panen benur udang windu pada kolam  pembenihan

1.3  Manfaat
Manfaat yang diharapkan  dari PKL (Praktek Kerja Lapangan) ini adalah
1.      Sebagai penambahan pengetahuan tentang bagaimana persiapan awal panen.
2.      Sebagai penambahan pengetahuan proses pelaksanaan panen
3.      Sebagai pengalaman tambahan untuk cara-cara persiapan sampai panen.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gambaran Umum Udang Windu
2.1.1 Klasifikasi
Adapun klsifikasi dari udang windu (Penaeus monodon), sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
     Filum : Arthropoda
          Subfilum : Crustacea
               Kelas : Malacostraca
                    Ordo : Decapoda
                          Famili : Penaeidae
                               Genus : Penaeus
                                   Spesies : Penaeus monodon.(Anonim, 2012)

2.1.2 Morfologi
Dilihat dari luar, tubuh udang terdiri dari dua bagian, yaitu bagian depan dan bagian belakang. Bagian depan disebut bagian kepala, yang sebenarnya terdiri dari bagian kepala dan dada yang menyatu itu dinamakan kepala-dada (cepholothorax) serta bagian perut (abdomen) terdapat ekor dibagian belakangnya.
Semua bagian badan beserta anggota-anggotanya terdiri dari ruas-ruas (segmen). Kepala dada   terdiri dari 13 ruas, yaitu kepalanya sendiri 5 ruas dan dadanya 8 ruas. Sedangkan bagian perut terdiri dari 6 ruas. Tiap ruas badan mempunyai sepasang anggota badan yang beruas-ruas pula. Seluruh tubuh tertutup oleh kerangka luar yang disebut eksoskeleton, yang terbuat dari bahan chitin. Kerangka tersebut mengeras, kecuali pada sambungan-sambungannya antara dua ruas tubuh yang berdekatan. Hal ini memudahkan mereka untuk bergerak.(Mujiman dan Suyanto, 2005)




Gambar 1. Udang Windu
Sumber gambar:http://carabudidaya.com/1.jpg(27januari.2014.pukul:14.00)
Tubuh udang dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian kepala dan bagian badan. Bagian kepala menyatu dengan bagian dada disebut cephalothorax yang terdiri dari 13 ruas, yaitu 5 ruas di bagian kepala dan 8 ruas di bagian dada. Bagian badan dan abdomen terdiri dari 6 ruas, tiap-tiap ruas (segmen) mempunyai sepasang anggota badan (kaki renang) yang beruas-ruas pula. Pada ujung ruas keenam terdapat ekor kipas 4 lembar dan satu telson yang berbentuk runcing
2.1.2.Siklus hidup
Secara umum pergantian bentuk larva mulai dari menetas sampai menjadi post larva (PL), yang siap untuk ditebar ke dalam tambak ada 4 fase atau stadia. Empat fase tersebut adalah : fase nauplius, fase protozoa atau disebut pula swbagai fase zoea, fase mysis dan yang terakhir adalah fase post larva. Bila diamati lebih teliti, maka pada setiap fase terdiri dari beberapa sub fase (stadium), yang mempunyai bentuk berlainan. (Wardiningsih dan Mudjiman,2003)
2.1.4.      Sifat dan Perilaku
Berikut beberapa sifat dan perilaku udang windu yang perlu diketahui oleh pembudidaya udang agar pelaksanaan pemeliharaan udang berhasil secara optimal. (Suyanto dan Takarina, 2009)
a)      Aktivitas
Udang mempunyai sifat nocturnal. Artinya, udang aktif bergerak dan mencari makan pada suasana yang gelap atau redup. Bila sinar terlalu cerah, udang akan diam berlindung di dasar perairan. Oleh karena itu, udang perlu diberi pakan lebih banyak pada sore hari dan malam hari. Sedangkan saat siang nan cerah, hanya sedikit pakan yang dibutuhkan. Udang windu lebih suka tinggal di dasar perairan (bentik) atau menempel pada sesuatu benda di dalam air. Jenis ini pun peka terhadap kondisi dasar tambak yang kotor dan busuk yang menyebabkan udang lekas stress.
b)      Kanibalisme
Umumnya, udang dan semua bangsa krustasea bersifat kanibal, yaitu memangsa sesame jenis yang lebih lemah kondisinya. Misalnya, udang yang sedang dalam proses ganti kulit seringkali dimakan oleh udang lain. Udang berukuran lebih kecil dimakan oleh udang besar, terutama bila dalam keadaan kurang makan.



c)      Ganti Kulit
Udang berganti kulit secara periodik. Pada proses ganti kulit, badan udang berkesempatan untuk bertumbuh besar secara nyata. Udang muda lebih sering ganti kulit ketimbang udang tua sehingga udang muda lebih cepat tumbuh ketimbang yang tua.
d)     Daya Tahan
Pada waktu masih benih, udang bersifat euryhaline yang sangat tahan terhadap fluktuasi kadar garam. Oleh sebab itu, udang windu dapat dipelihara di tambak dengan kadar garam bervariasi. Dari kisaran salinitan 3 – 5 promil di tambak yang jauh dari laut hingga dalam tambak dekat laut berkadar salinitas 20 – 30 promil. Di tambak yang berair dangkal, daya tahan terhadap goncangan suhu juga cukup besar. Di malam hari, suhu dapat mencapai 22 o C atau dibawah 25 o C. Namun di siang hari, terutama musim kemarau mungkins suhu sering mencapai 31 o C. meskipun demikian, udang windu tetap dapat tumbuh dengan cukup baik. (Suyanto dan Takarina, 2009)
2.1.5.      Penyebaran Dan Musim
Beberapa daerah yang merupakan daerah penyebaran udang windu (Penaeus monodon), antara lain Sulawesi Selatan, pantai utara Jawa Tengah (Lasem sampai Tuban), Jawa Timur, (Banyuwangi, Situbondo, tuban, dan Madura), D.I. Aceh, Nusa Tenggara Barat, dan Kalimantan Timur. Biasanya, daerah yang terdapat benur juga banyak terdapat nener bandeng.
Musim benur hampir selalu ada sepanjang tahun, bersamaan dengan musim benih ikan bandeng (nener). Pastinya, puncak musim terjadi di awal musim hujan, yaitu bulan Oktober sampai Desember yang menurut kalender tahun Jawa disebut musim kapat atau musim labuh.
Pada awal musim kemarau, yaitu bulan Maret atau April sampai Juni yang menurut kalender Jawa disebut musim kesongo atau marengan. Umumnya, kala musim tersebut bergeser menurut datangnya musim hujan, lazimnya di Indonesia bagian barat musim hujan terjadi lebih dahulu, bergeser kea rah timur

2.2.  Panen
Panen merupakan kegiatan teknis yang yang terakhir dari rangkaian pembenihan udang windu, panen biasanya dilakukan apabila larva sudah mencapai stadia PL, panen larva dapat dilakukan dengan dua cara yaitu panen selektif dan panen total.  Panen selektif dilakukan tanpa menurunkan volume air, sedangkan panen total dengan cara menurunkan volume air. (Anonim.2013)
2.2.1. Panen Selektif
Panen selektif dilakukan apabila permintaan benur tidak terlalu banyak dan di panen sebagian dari jumah udang yang ada di kolam.
Cara melakukan panen selektif, yaitu:
a.    Siapkan alat berupa ember berkapasitas 50 liter dan seser serta bak fiber   glass.
b.      Seser benur yang ada dalam bak pemeliharaan larva dengan menggunakan seser dengan ukuran mata jaring 50 mesh.
c.       Simpan benur yang telah di seser ke dalam ember yang berisi air laut yang telah di beri aerasi.
d.      Kemudian, ember di angkat dan di masukkan kedalam bak fiber glass.
e.       Masukkan aerasi ke dalam bak fiber glass.
f.       Takar benur sesuai dengan kepadatan yang diinginkan pembeli.
2.2.2.  Panen Total
Panen total di lakukan apabila permintaan benur banyak dan panen di lakukan secara keseluruhan.
Adapun cara melakukan panen total, yaitu:
a.       Siapkan alat berupa : kelambu panen, seser, ember dan bak fiber.
b.       Pasangi kelambu panen pada saluran pengeluaran.
c.       Kurangi volume air yang ada dalam bak.
d.      Setelah air mencapai ketinggian 35 cm, buka saluran pembuangan secara perlahan-lahan.
e.       Seser benur yang ada pada kelambu panen atau collector dan di masukan ke dalam ember yang telah di isi air laut dan yang telah di beri aerasi.
f.       Angkat ember yang berisi benur kemudian masukkan ke dalam bak fiber yang telah di isi dengan air laut dan di beri aerasi.
g.      Benur yang ada dalam bak fiber di takar sesuai dengan permintaan pembeli.



2.3. Penghitungan benur.
Adapun cara perhitungan benur  adalah sistem sample dengan cara:
1.      Pihak pembeli memilih salah satu kantong yang berisi benur yang sudah di takar yang di perkirakan isinya paling sedikit.
2.      Setelah itu, kantong yang sudah di pilih kemudian di hitung untuk mengetahui rata-rata benur setiap kantongnya. Di mana biasanya setiap kantong berisi 2.500 ekor benur dan harga 1 ekor benur udang windu  yaitu Rp.18.

2.4.Pengemasan
Untuk mempermudah pengangkutan benur, maka dilakukan pengemasan dengan cara:
1.      Siapkan alat dan bahan berupa : oksigen murni, kardus, lakban / isolasi, karet gelang, dan kantong benur.
2.      Kantong benur di isi air laut.
3.      Masukkan benur yang sudah di takar ke dalam kantong lalu di beri oksigen, kemudian kantong di ikat dengan karet gelang.
4.      Masukkan kantong benur ke dalam kardus, kemudian kardus di tutup dan di lakban/ isolasi, selanjutnya siap angkut. (Anonim.2013)




BAB III
METODE PRAKTEK

3.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan ini di laksanakan di Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Takalar, Sulawesi Selatan, Waktu pelaksanaan berlangsung sejak tanggal 6 Februari sampai 14 Februari.

No.
Alat
Fungsinya
1
Baskom
tempat penghitungan benur
2
Seser/Serok
Untuk memindahkan benur
3
Takar Benur
Untuk menakar benur
4
Kantong Panen
Sebagai Tempat untuk pengemasan benur
5
Kelambu Panen
untuk menampung benur dari kolam pemeliharaan
6
Bak Fiber
Bak penampungan benur
7
Karet Gelang
Sebagai pengikat kantong panen
8
Kardus
 Tempat dari kantong panen yang sudah di isi benur untuk siap di angkut


3.2   Alat dan Bahan  
3.2.1. Alat
 Adapun alat dan bahan yang di gunakan selama Praktek Kerja Lapangan (PKL) dapat di lihat pada tabel 1 dan 2
Tabel 1. Alat yang di gunakan

 3.2.2. Bahan
Bahan yang digunakan selama pelaksanaan praktek kerja lapangan (PKL) ini, dapat Dilihat Pada Tabel 2.
Tabel 2. Bahan yang di gunakan

No
Bahan
Fungsi
1
Oksigen
Pada saat pengangkutan suhu pada benur teteap terjaga
2
Pakan alami
Pada saat pengangkutan, siklus makan benur tetap terpenuhi
3
Es batu
Menstabilkan suhu benur

3.3    Teknik Pengambilan Data  
3.3.1   Data Primer
Data primer merupakan data yang didapat dari sumber informan pertama yaitu individu atau perseorangan seperti hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti. Data primer ini berupa catatan hasil wawancara, hasil observasi ke lapangan secara langsung dalam bentuk catatan tentang situasi dan kejadian.
1.  Observasi
Beberapa informasi yang diperoleh dari hasil observasi adalah ruangan (tempat), kegiatan, objek, perbuatan, kejadian atau peristiwa, dan waktu. Alasan melakukan observasi ini adalah untuk menyajikan gambaran realistik perilaku atau kejadian, untuk menjawab pertanyaan, untuk membantu mengerti perilaku manusia, dan untuk evaluasi yaitu melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu melakukan umpan balik terhadap pengukuran tersebut.
2.  Wawancara
Wawancara merupakan pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang diperoleh sebelumnya. Tehnik wawancara yang digunakan dengan wawancara yang mendalam. Wawancara mendalam  adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara, di mana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama.



3. Partisipasi Aktif
Partisipasi aktif merupakan metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan pengindraan dimana observer atau peneliti benar-benar terlibat dalam keseharian responden.
Bentuk partisipasi aktif ini merupakan suatu kegiatan dimana kita turut serta secara langsung dalam semua kegiatan yang berkaitan dengan pemanenan  seperti persiapan panen, proses pemanenan, paska panen, dan lain-lain.
3.3.2        Data Sekunder
Data sekunder merupakan data primer yang sudah diolah lebih lanjut dan disajikan oleh pihak pengumpul data primer atau pihak lain misalnya dalam bentuk tabel-tabel atau diagram-diagram. Data ini digunakan untuk mendukung infomasi primer yang diperoleh baik dari dokumen, maupun dari observasi langsung ke lapangan. Dalam praktek kerja lapang ini data sekunder diperoleh dari laporan-laporan pustaka yang menunjang, serta data yang diperoleh dari lembaga pemerintah, pihak swasta yang berhubungan maupun masyarakat yang terkait dengan usaha pembesaran udang windu.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Keadaan Umum Lokasi
Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Takalar merupakan suatu unit pelaksanaan Teknis Direktorat  Jenderal (UPT – Dirjen) perikanan yang dikenal dengan Loka Budidiya Air Payau (LBAP) Takalar yang terletak di Desa Bontoloe, Kecamatan Galesong Selatan, Kabupaten Takalar, LBAP Takalar didirikan pada tahun 1983 di atas tanah seluas 2 Ha dengan dua lokasi yang terpisah yakni Loka I dan Loka II, Namun adanya berbagai kendala menyebabkan LBAP mulai beroperasi pada tahun 1986. LBAP Takalar selaku UPT – Dirjen perikanan, berdasarkan SK Mentri pertanian No.  246 / KPTS / OT. 210 /94 Tanggal 8 april 1984 mempunyai  tugas sebagai berikut:
1.      Sebagai palaksana teknis pembenihan dan budidaya air payau.
2.      Penerapan teknik dan peningkatan dalam usaha pembenihan, budidaya ikan dan udang air payau.
3.      Penyuluhan atau penyebaran teknologi kepeda masyarakat.
4.      Memproduksi  induk dan benih  yang bermutu.
5.      Melaksanakan pelestarian melelui Restocking.
Pada tahun 2001 LBAP Takalar mengalami perubahan status menjadi Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Takalar  berdasarkan  Sk Ment eri  Kelautan Dan Perikanan No. KEP. 26 D/Men/2001 tanggal 1 mei 2001, dengan fungsi melaksanakan penerangan sumberdaya perikanan dan lingkungan meliputi wilayah perairan payau di kawasan Timur Indonesia (KTI).
BBAP Takalar juga berfungsi sebagai tempat pelatihan dan peningkatan tenaga teknik produksi dan pengololaan lingkungan terhadap pembangunan dan kegiatan operasional pembenihan melalui APBN dan beberapa peralatan bantuan dari Badan Dunia UNDP – FAO.
Memasuki Tahun 2004 bidang tugas yang telah mencapai atau dilaksanakan dan tingkat keberhasilan oleh BBAP Takalar adalah:
1.      Bidang Perekayasaan Teknologi,
a.       Teknologi Pembenihan dan Budidaya Udang
b.      Teknologi Pembenihan Kepiting
c.       Teknologi Pembenihan Ikan Terbang
d.      Teknologi Pembenihan dan Budidaya Ikan Bandeng
e.       Teknologi Pembenihan dan Budidaya Di Keramba Jaring Apung Ikan Kerapu Batik, Macan dan Kerapu Tikus.
2.      Pelayanan Teknis dan Informasi,
Dalam bidang ini telah dikembangkan sistem pelayanan berupa kegiatan pemagangan, pelatihan dan kursus, bantuan tenaga teknis lapangan, konsultasi, dimensi, buku petunjuk teknis, brosur dan adanya unit perpustakaan.
3.   Pelestarian Sumberdaya  atau Pelestarian Lingkungan,
Kegiatan perlindungan yang dilaksanakan dan dikembangkan adalah identifikasi dampak lingkungan, monitoring lingkungan dan parasit yang menyerang pada panti benih serta budidaya. Kegiatan restocking merupakan salah satu usaha konservasi yang dilakukan dalam menjalankan fungsi pengabdian.
4.1.2 Struktur Organisasi
Struktur organisasi BBAP Takalar dalam kegiatan berpedoman pada SK Menteri Kelautan dan Perikanan No. KEP26D/Men/2001, tanggal 1 Mei 2001, sebagai berikut;
KEPALA BBAP
TAKALAR
      TATA USAHA
SEKSI STANDARISASI
DAN INFORMASI

SEKSI PELAYANAN TEKNIK
JABATAN
 FUNGSIONAL
RANCANG BANGUN & PERALATAN
LINGKUNGAN &HAMA PENYAKIT
NUTRISI/
PAKAN
PEMBUDIDAYA
PEMBENIHAN
 













     


Gambar 2. Bagan struktur organisasi BBAP Takalar

Untuk melaksanakan tugas-tugas sebagai unit pelaksana teknis kepala BBAP yang bertanggung jawab kepada Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. BBAP Takalar mengembang tugas masing-masing bagian sesuai dengan struktur organisasi.
4.2 Persiapan Panen
Secara umum kegiatan yang dilakukan pada tahap ini antara lain meliputi penyiapan sarana dan transportasi panen. Sarana dan transportasi panen harus tersedia sebelum proses pemanenan dilakukan untuk menghindari penurunan mutu benih udang. Bahan dan perlatan yang perlu dipersiapkan, antara lain:   
a)      Alat.
Baskom, seser, takar benur, kantong panen, plastik, bak fiber, karet gelang, dan kardus.
b)      Bahan.
Air laut, benur, oksigen, pakan alami, dan es batu.
                           
4.3  Waktu Panen.
Pemanenan di lakukan pada stadia post larva (PL 12 ke atas sesuai dengan keinginan pembeli) yang dimana pada stadia ini larva sudah siap di tebar dalam tambak, waktu panen biasanya dilakukan pada saat pagi, sore, dan malam berdasarkan jauh dekatnya tambak yang akan di tebari.Sistem penen biasanya di lakukan dengan panen total dan panen selektif, namun panen yang sering di lakukan adalah panen total karena pembeli sering memesan dengan jumlah yang banyak.  


4.4        Pelaksanaan Panen
Cara pemanenan udang windu yaitu dilakukan dengan hati-hati supaya tidak mengakibatkan stres pada larva. Proses pemanenan dilakukan dengan dua cara yaitu panen selektif dan panen total.
4.4.1.Panen Selektif
Panen selektif dilakukan jika jumlah benur yang akan dipanen dalam jumlah yang sedikit, adapun langkah-langkahnya sebagai berikut
a)      Benur diseser dari atas dengan menggunakan seser benur berukuran 50 mikron
b)      Kemudian benur dipindahkan kedalam baskom yang telah diisi air laut
c)      Benur di tampung ke dalam wadah fiber dan diberi aerasi
4.4.2.Panen Total
Panen total dilakukan jika jumlah benur yang dipanen dalam jumlah yang banyak adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:
a)      yaitu dengan cara air media pemeliharaan benur dikurangi hingga 70% dari volume air awal,
b)      pasang kelambu panen pada saluran pengeluaran dan dop pipa pengeluaran dibuka maka air dan benur akan keluar,
c)      setelah benur tertampung dikelambu panen kemudian diserok dengan menggunakan seser dan dipindahkan ke dalam baskom,
d)     kemudian diangkut dan ditampung pada bak fiber bulat dengan kapasitas air 500 liter air dan diberi aerasi.   
e)      Setelah benur dterkumpul dalam bak fiber maka diberikan pakan alami berupa artemia.
Menurut anonim, (2013) Panen dapat di lakukan dengan 2 cara yaitu:  Panen selektif dilakukan apabila permintaan benur tidak terlalu banyak, benur di panen sebagian dari jumah benur yang ada di kolam sedangkan Panen total di lakukan apabila permintaan benur banyak, benur di panen secara keseluruhan.

4.5 Penghitungan Benur.
            Sebelum benur dimasukan kedalam kantong panen maka dilakukan penghitungan benur dengan tujuan untuk mengetahui jumlah benur yang telah dipanen yang akan dijual kepada petani tambak dan untuk lebih meyakinkan konsumen, harga benur per ekor tergantung dari kesepakatan.Cara penghitungan benur yaitu benur dimasukan kedalam baskom yang berisikan air menggunakan bola takar dan diamati.

4.6 Pengepakan (Packing)   
Dalam proses pengepakan hal yang perlu diperhatikan adalah langkah-langkah pengepakan dalam proses pengepakan yaitu:
-          Siapkan kardus/styrofoam
-          Kantong  plastik di isi air laut kurang lebih 1-2 liter.
-          Kantong plastik di isi benur dan di beri oksigen dengan perbandingan 1:2. dan diikat dengan kuat menggunakan karet gelang
Kantong yang berisi benur dimasukan kedalam kardus/styrofoam secara teratur dan diisolasi dengan rapi.
Apa bila jarak tempuh benur sangat jauh sebaiknya menggunakan es batu lalu es  dimasukan kedalam plastik dan di ikat dengan karet agar upaya es tidak mencair, lalu es yang sudah dimasukan kedalam plastik tadi di masukan kedalam kardus bersamaan dengan benur yang sudah diberi oksigen. Hal ini berguna untuk menjaga stabilitas suhu agar benur tidak stres.



BAB V
PENUTUP
5.1.kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan diatas dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.          Dalam persiapan panen benur meliputi penyiapan sarana dan transportasi panen. Sarana dan transportasi panen harus tersedia sebelum proses pemanenan dilakukan untuk menghindari penurunan mutu benih udang.
2.          Cara pemanenan udang windu yaitu dilakukan dengan hati-hati supaya tidak mengakibatkan stres pada larva. Proses pemanenan dilakukan dengan dua cara yaitu panen selektif dan panen total.
3.          Benur udang yang selesai dipanen dihitung agar supaya dapat diketahui jumlah dari benur, setelah dihitung lalu dilakukan pengepakan (packing) 
                                                                                 
5.2.Saran
Dalam proses pemanenan udang windu, hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu persiapan pemanenan, waktu panen, tehnik pemanenan, dan penanganan pasca panen.





DAFTAR PUSTAKA

Amri Khairul Ir. M.si, 2008. Budidaya Udang Windu Secara Intensif. Agromedia Pustaka . Jakarta.

Anonim 2012. Dalam Motoh(1981)dan Landau(1992). Biologi udang windu dan morfologi (Penaeus monodon.) http://kuliahitukeren.blogspot.com/2011/02/biologi-udang-windu-dan-morfologi.html
Anonim 2012. Kriteria Pasca Panen Udang.Di akses dari.http://www.iptek.net.id/ind/warintek/?mnu=6&ttg=3&doc=3b1 pada tanggal.21,february,2014
 pukul 14.00 WIB)

Hanapi Rezky. 2013. Pembenihan Udang Windu (Penaeus monodon). Di akses dari : reskyphanapi.blogspot.com/2013/10/perbenihan-udang-windu.html. pada tanggal 21 february 2014, pukul 14.00 WIB)

Mujiman Ahmad dan Suyanto Rachmatun. 2005. Budidaya Udang Windu. PT. Penebar Swadaya. Jakarta.
Murtidjo Agus Bambang. 2003. Benih Udang Windu Skala Kecil. KANSIUS. Yogyakarta.
Suyanto Rachmatun. Dan Takarina Purbani. 2009. Panduan Budidaya Udang Windu. PT. Penebar Swadaya. Jakarta
Wardiningsih Nining  dan Mudjiman Ahmad 2003. Teknik Budidaya Udang Windu Pustaka Baru Press. Yogyakarta