Feminisme Sosialis: Apa? Bagaimana?
Dan Mengapa Kita Harus Menolak Feminisme Borjuis?
Feminisme dikatakan
sebagai sebuah ide yang diantaranya berupaya melakukan pembongkaran terhadap
ideologi penindasan atas nama gender, pencarian akar ketertindasan perempuan,
sampai upaya penciptaan pembebasan perempuan secara sejati. Feminisme adalah
basis teori dari gerakan pembebasan perempuan.
Gerakan perempuan
dan ide feminisme memandang perempuan sampai detik ini selalu dalam posisi
tertindas, sub-ordinat secara sistem dan terpenjara secara ideologis. Sampai di
sini, - kami kaum Sosialis sangat sepakat dan bahkan kami memandang perjuangan
pembebasan perempuan harus sejalan dengan perjuangan Sosialisme.
Ada berbagai macam
aliran Feminisme yang berkembang; sebut saja : Feminisme Liberal, Feminisme
Radikal dan Feminisme Post Modern. Di samping itu ada pula istilah Feminisme
Anarkis, bahkan juga berkembang aliran dalam penamaan agama seperti Feminisme
Islam atau Feminisme Kristen.
Bagaimana kita
harus memilih antara berbagai solusi yang ditawarkan masing-masing aliran? Kami
hanya punya satu jawaban untuk itu: kita harus mencari mana yang menawarkan
solusi yang paling menyeluruh dan akan membawa perubahan yang mendasar.
Kita akan lihat
satu-persatu apa yang ditawarkan oleh masing-masing aliran ini untuk melihat
hal itu.
Feminis
Liberal
Apa yang disebut
sebagai Feminis Liberal ialah pandangan untuk menempatkan perempuan yang
memiliki kebebasan secara penuh dan individual. Aliran ini menyatakan bahwa
kebebasan dan kesamaan berakar pada rasionalitas dan pemisahan antara dunia
privat dan publik. Setiap manusia -demikian menurut mereka- punya kapasitas
untuk berpikir dan bertindak secara rasional, begitu pula pada perempuan. Akar
ketertindasan dan keterbelakngan pada perempuan ialah karena disebabkan oleh
kesalahan perempuan itu sendiri.
Apa jalan keluar
yang ditawarkan oleh Feminis Liberal? Perempuan harus mempersiapkan diri agar
mereka bisa bersaing di dunia dalam kerangka "persaingan bebas" dan
punya kedudukan setara dengan lelaki. Perempuanlah yang harus membekali diri
dengan bekal pendidikan dan pendapatan. Inilah yang dikatakan oleh salah
seorang tokohnya, Naomi Wolf, sebagai "Feminisme Kekuatan" yang
merupakan solusi. Kini perempuan telah mempunyai kekuatan dari segi pendidikan
dan pendapatan, dan perempuan harus terus menuntut persamaan haknya serta
saatnya kini perempuan bebas berkehendak tanpa tergantung pada lelaki.
Pandangan ini jelas
bersifat reformis dan moderat. Isu persamaan hak antara laki-laki dan perempuan
serta perluasan hak-hak individu (termasuk jatah kuota sekian persen untuk
perempuan di bangku parlemen atau pemerintahan) berikut solusi-solusinya,
adalah gaya
mereka. Juga pelibatan perempuan dalam industrialisasi dan program pembangunan,
yang populer disebut Women in Development. Intinya ialah semua action
pergerakan perempuan dilakukan sedikit demi sedikit tanpa mengganggu status quo
kekuasaan. Pada akhirnya lelaki harus dipaksa untuk memberikan
"tempat" pada perempuan dalam segala bidang kehidupan.
Apa kritik
yang signifikan untuk Feminisme Liberal?
Hal penting yang
harus dikemukakan ialah, Feminisme Liberal tidak pernah mempertanyakan ideologi
Patriarki dan sama sekali tidak bisa menjelaskan akar ketertindasan perempuan.
Mereka hanya mengatakan, permasalahan pada perempuan selama ini ialah pada
perempuan sendiri dan jalan keluarnya ialah perempuan yang harus membekali diri
sendiri dengan pendidikan dan pendapatan. Apakah para liberal
tidak bisa melihat bahwa justru kaum perempuanlah yang merupakan golongan yang
paling minim untuk mendapatkan akses pendidikan, baik karena biaya pendidikan
yang mahal atau pun bentuk diskriminasi yang kerap terjadi. Dengan cara apa
perempuan bisa mendapatkan penghasilan yang layak, ketika bagian terbesar perempuan
hidup di dunia ketiga, yang merupakan korban imperialisme dan hidup di bawah
garis kemiskinan. Lalu untuk kasus negara maju, apakah jika banyak perempuan
telah memiliki pendidikan dan penghasilan yang tinggi, secara otomatis sistem
penindasan itu akan hapus? Pada kenyataannya: tidak. Perempuan tetap tertindas,
karena memang Kapitalisme memerlukan ideologi Patriarkal.
Secara faktual
gerakan ini juga tak bisa menangkal serangan pemerintah terhadap perempuan, di
mana dalam banyak kasus kemanusiaan, perempuan dan anak jadi korban pertama.
Para Liberal juga gagal menjelaskan mengapa secara sexis (sesuai dengan kajian
utama mereka) masalah ketidaksetaraan gender masih berlaku secara signifikan;
bahkan di negara kapitalis maju sekalipun masih ditemui pula perbedaan gaji
antara buruh perempuan dengan buruh lelaki.
Keberadaan
Feminisme Liberal sering dituduh sebagai senjata kelas borjuis, karena penuh
dengan "selubung ideologis". Selubung ideologisnya ialah pelemahan
terhadap radikalisasi gerakan perempuan yang secara masif bersatu dengan
kekuatan Kiri pada masa-masa perlawanan tumbuh di Eropa dan Amerika Serikat.
Apalagi inspirasi pekerja perempuan Rusia pada gerakan Revolusi Rusia 1916 dan
buruh-buruh perempuan Amerika Serikat yang menelurkan aksi hari Buruh Internasional
(May Day) begitu terngiang-ngiang dan menakutkan bagi kelas penguasa
negara-negara kapitalis maju. Jika Feminisme Liberal ini diterapkan, tentunya
akan membelokkan tuntutan-tuntutan progresif ke arah tuntutan yang moderat dan
reformis. Tuntutan-tuntutan politik untuk perubahan sistem secara keseluruhan
akan diganti dengan "peningkatan kemampuan personal" atau
"penguatan kepribadian".
Karena sangat
bersesuaian dengan kepentingan kelas penguasa inilah dukungan keuangan untuk
gerakan liberal ini dalam bentuk organisasi, LSM dan pers, sangatlah besar.
Kita dapat melihat bahwa sebagian besar majalah dan tabloid yang
mengkhususkan diri di bidang perempuan saat ini menganut paham liberal semacam
ini. Jika diperhatikan isinya, tidak ada sekalipun majalah-majalah ini mencoba
mengemukakan persoalan yang dihadapi oleh perempuan secara sistemik. Semua
persoalan akan direduksi menjadi persoalan pribadi.
Tentu kami tidak
akan menyangkal bahwa segelintir perempuan akan berhasil menerapkan Feminisme
Liberal ini untuk membebaskan dirinya. Namun, bagaimana dengan mayoritas kaum
perempuan yang miskin dan dimiskinkan? Mereka yang menganut Feminisme Liberal
akan mengatakan bahwa ini adalah "salah mereka sendiri tidak mau
beremansipasi". Pandangan yang naif dan jelas keberpihakannya pada kelas
penguasa.
Inilah yang alasan
kami mengapa ideologi Feminisme Liberal ini berbahaya untuk gerakan pembebasan
perempuan dan dari berbagai varian yang ada, jenis Liberal inilah yang paling
berbahaya.
Feminisme
Radikal
Trend ini muncul
sejak pertengahan tahun 70-an di mana aliran ini menawarkan ideologi
"perjuangan separatisme perempuan". Pada sejarahnya, aliran ini
muncul sebagai reaksi atas kultur seksisme atau dominasi sosial berdasar jenis
kelamin di Barat pada tahun 1960an, utamanya melawan kekerasan seksual dan
industri pornografi.
Basis teori ini
ialah bahwa sistem patriarkal tersebut datang dari perbedaan biologis antar
jenis kelamin, khusunya peran perempuan dalam reproduksi. Intinya adalah
penindasan secara kelamin (sex),di mana perempuan ditindas oleh lelaki. Tetapi
berbeda dengan Feminisme Liberal yang menuntut kesetaraan gender untuk kesamaan
peran secara moderat (artinya lelaki adalah musuh yang bisa disadarkan) -
aliran ini malah menganggap lelaki sebagai "musuh tak terdamaikan".
Mereka mengatakan: "karena lelaki tak mengalami penindasan seksual, maka
laki-laki tak mengerti akan perjuangan pembebasan perempuan" .
Bagi Feminis
Radikal, inilah yang disebut sebagai perbedaan esensial. Karena intinya adalah
permasalahan biologi, maka mereka perlu melokalisir sumber permasalahan yakni
sex. Seksisme sesuatu yang tak terhindarkan, karenanya yang menjadi musuh
adalah laki-laki. Teori patriarkal mereka mengatakan bahwa dominasi lelaki pada
hakekatnya jahat, suka melakukan kekerasan, suka berperang dan suka melakukan
pemaksaan seksualitas. Perempuan hanya dijadikan sekedar obyek sosial belaka.
Penjelasan mereka hanya berhenti pada masalah biologis saja tanpa ada
penjelasan sosial tentang seksualitas tersebut. Mereka mengatakan pula bahwa
teori mereka adalah "karena penindasan berbasis biologis itu adalah
sesuatu yang alamiah" maka tawaran teori mereka ini "murni"
membela perempuan tanpa terkontaminasi pikiran dan budaya laki-laki. Mereka
mengajukan pula praktek lesbianisme sebagai solusi seksualitas secara
konsisten.
Tak heran, sebagai
konsekwensi dari kekacauan teori mereka ini dalam prakteknya mereka menentang
pastisipasi lelaki dalam aksi-aksi nyata pembebasan perempuan. Prioritas dari
gerakan mereka hanya berkutat pada seksualitas, teknologi reproduksi, perkosaan
dan kekerasan seksual. Propaganda mereka lebih banyak bergerak di bidang studi
perempuan. Mereka juga sering mengedepankan jargon personal is political,
sebagai ungkapan pendapat bahwa perlawanan atas penindasan perempuan bisa dalam
bentuk yang sangat personal dan subyektif urusan perempuan itu sendiri.
Jika kita memakai
teori ini, jelas bahwa kita akan beranggapan bahwa sejak manusia muncul di
dunia ini laki-laki telah menindas perempuan. Dan ketika mereka berhadapan dengan
fakta-fakta dari lapangan sejarah bahwa dalam masyarakat berburu dan mengumpul
kesetaraan ini ada, mereka kebingungan. Mereka kemudian mengajukan teori
"Man the Hunter" vs "Women the Gatherer". Mereka berusaha
memutarbalikkan fakta sejarah seakan-akan yang berburu adalah laki-laki,
sehingga di dalam diri setiap laki-laki akan muncul nafsu membunuh dan
merampas, sedangkan yang mengumpul adalah perempuan, sehingga dalam diri
perempuan mengalir naluri membangun dan memelihara. Ini bukan saja sebuah
pandangan yang naif, namun sudah menjadi sebuah propaganda hitam. Ini adalah
penyesatan. Laki-laki dan perempuan sama-sama melakukan perburuan dan
pengumpulan bahan makanan. Mungkin mereka tidak tahu bahwa para ahli
neurofisiologi telah menemukan bahwa kecenderungan righthandedness
(kebanyakan orang lebih dapat menggunakan tangan kanannya daripada tangan
kirinya) yang khas terdapat pada manusia adalah hasil evolusi panjang yang
diawali oleh keharusan para ibu untuk menggendong bayinya ketika berburu.
Teori yang mereka
kembangkan ini jelas gagal dalam menjelaskan bukan saja akar permasalahan dan
asal-usul ketertindasan perempuan, tetapi juga bagaimana praktek penindasan itu
terjadi. Teori mereka yang berdasar pada permasalahan biologi dan kelamin, yang
pada awalnya berusaha mengambil landasan rasional gugur berantakan ketika
berhadapan dengan fakta-fakta ilmiah dan berubah menjadi manupulasi. Memang
benar pembedaan jenis kelamin akan selalu ada, tapi secara sosial itu tak bisa
dijadikan persoalan. Kenyataannya yang jadi korban penindasan terbesar adalah
pekerja - baik itu perempuan maupun lelaki.
Dan kegagalan
paling besar dari Feminisme Radikal adalah kegagalannya menerangkan mengapa
banyak pemimpin perempuan justru menindas kaumnya sendiri. Margareth Tatcher,
misalnya, justru membalikkan peraturan-peraturan yang dibuat pendahulunya yang
laki-laki, peraturan-peraturan yang banyak memberi kesempatan perempuan dari
kelas-kelas bawah untuk mendapatkan pendidikan. Di negeri sendiri, kita melihat
bahwa Megawati, seorang perempuan, telah memotong banyak anggaran subsidi -
satu hal yang pasti sangat merugikan kaum perempuan dari kelas-kelas bawah yang
semakin akan kesulitan untuk mengatur anggaran belanjanya. Megawati sama sekali
tidak berbuat sesuatu untuk memperbaiki nasib kaum perempuan di negeri ini.
Fenomena ini sama sekali gagal dijelaskan oleh Feminisme Radikal.
Penindasan
laki-laki terhadap perempuan adalah satu fakta dalam sistem masyarakat yang
sekarang ada. Namun, penindasan itu tidak dapat diterangkan dengan mengandalkan
diri pada perbedaan biologis antara keduanya.
Feminisme
Post Modern
Ide Posmo - menurut
anggapan mereka - ialah ide yang anti absolut dan anti otoritas, gagalnya
modernitas dan pemilahan secara berbeda-beda tiap fenomena sosial karena
penentangannya pada penguniversalan pengetahuan ilmiah dan sejarah. Mereka
berpendapat bahwa gender tidak bermakna identitas atau struktur sosial, tetapi
lebih dalam makna diskursus.
Sebenarnya teori
ini lahir dari kemunduran dan demoralisasi gerakan kiri dan gerakan perempuan
pada tahun 1970an disusul dengan runtuhnya rezim Stalinisme di Uni Sovyet dan
Eropa Timur. Ide ini lahir dari kefrustasian para mantan Marxis yang salah satu
motornya ialah kelompok Frankfurt
School.
Berawal dari
kefrustasian inilah mereka kemudian merumuskan bahwa "semua kebenaran itu
relatif", kebenaran yang mutlak tidak ada. Dengan demikian, konsepsi
tentang pembebasan perempuan kemudian dikembalikan pada pengalaman
masing-masing individu. Mereka percaya bahwa tidak akan ada satupun konsep pembebasan
perempuan yang akan membebaskan perempuan sebagai kaum. Pembebasan itu
hanya dapat terjadi jika semua perempuan sudah dapat "menemukan konsepsi
mereka sendiri tentang pembebasan perempuan".
Mereka ini tidak
menyadari bahwa pembentukan ide di kepala manusia sangat ditentukan oleh
lingkungan sosialnya. Seorang perempuan yang tiap hari mendengar kotbah dari
para agamawan yang dogmatis dan kolot, yang menentang persamaan hak dan
kewajiban antara laki-laki dan perempuan, pasti akan dengan sendirinya turut
menolak pembebasan perempuan.
Ide-ide yang ada
pada feminisme posmo jelas mengandung banyak kelemahan. Pemecahan pada
individu-individu untuk "mengerti akan penindasan" tidak bisa
menjelaskan mengapa mayoritas massa
rakyat -dan diantara yang masyoritas itu jumlah perempuan adalah yang terbesar
- hidup dalam masalah penderitaan secara ekonomi dan sosial. Gejala sosial apa
yang bisa diterangkan oleh posmo? Tak ada. Karena pemutlakan individu adalah
penekanan mereka, sementara masalah penindasan adalah masalah mayoritas umat
manusia. Jelas ini destruktif untuk mengaburkan persoalan-persoalan sosial.
Apakah pekerja perempuan yang ditindas di dalam pabrik suatu negara kapitalis
terbelakang, bisa diselesaikan secara individual?
Satu hal lagi yang
harus dikritik dari Feminisme Posmo: kecenderungannya mengadakan usaha
perubahan hanya dalam bentuk diskursus. Ini ngomong doang. Tidak
akan pernah ada perubahan dari ruang-ruang seminar. Sejarah dunia telah
membuktikan berkali-kali pada kita bahwa perubahan hanya dapat diperoleh di
jalanan - dengan aksi-aksi massa.
Dalam hal apapun. Baik itu dalam persoalan Orde Baru maupun dalam soal
perempuan. Jika mereka berpikir bahwa persoalan perempuan dapat diselesaikan
dari ruang-ruang diskusi, mereka ini naif sekali. Tapi, jika mereka percaya
bahwa memang demikian halnya, mereka justru membantu patriarki untuk tetap
berkuasa secara dominan karena apapun yang mereka perdebatkan di ruang-ruang
seminar ber-AC itu tidak akan pernah terjangkau oleh perempuan pekerja di
pabrik-pabrik atau perempuan petani di sawah-sawah.
Perantaraan
linguistik (bahasa) yang menjadi medium untuk memecah-mecah persoalan, tidak
akan berguna untuk merespons perjuangan massa
rakyat yang semakin masif di berbagai belahan dunia, karena kaum perempuan
miskin tidak paham tentang bahasa-bahasa elitis ini. Jika kita ingin
membebaskan seluruh kaum perempuan, kita justru harus bicara dalam
bahasa yang paling sederhana. Kita harus menginggalkan "bahasa kita"
dan mulai bicara dengan "bahasa mereka". Perdebatan tentang bahasa
hanya akan menghasilkan pengaburan atas pokok permasalahan sebenarnya dan
justru akan dapat dimanfaatkan oleh kelas pemilik modal.
Feminisme
Anarkis
Anarkisme sebagai
suatu paham politik yang mencita-citakan masyarakat sosialis dan menganggap
negara adalah sumber permasalahan yang sesegera mungkin harus dihancurkan.
Mereka seperti kaum posmo -anti otorianisme, anti kelembagaan dan sistem;
karenanya eksistensi kekuasaan dan negara harus ditolak karena lembaga adalah
sumber penindasan. Masyarakat sosialis menurut versi mereka ialah masyarakat
federal yang terdiri dari komune-komune otonom yang melakukan produksi bersama.
Dalam praktek perjuangannya pun, karena mereka anti otorian, mereka berelasi
lewat jaringan-jaringan kerja (networks) dan menganggap bahwa organisasi yang
ketat dan berdisiplin, melanggar kebebasan individu.
Feminisme Anarkis -
yang juga banyak variannya (bahkan ada varian yang pro kapitalisme, walau tidak
dominan) - secara umum mendasarkan pada pemahaman demikian : penindasan perempuan
karena adanya sistem yang menindas. Kapitalisme adalah sistem yang menindas dan
sistem itu sendiri adalah otorianisme yang pula menindas. Feminisme Anarkis
menyatakan bahwa negara dan patriarki adalah penyimpangan yang merampas
kebebasan dan karenanya harus segera dihancurkan. Teori ini menganggap
subordinasi perempuan ditentukan sedemikian rupa oleh sistem hubungan seksual
dan keluarga sebagaimana juga oleh kontrol negara, karenanya semua hambatan
sosial harus dihilangkan dan menggantinya dengan komunmitas perempuan yang
desentralis dan organis. Tokoh-tokoh Feminis awal seperti Emma Goldmann dan
Voltaire berpendapat bahwa sikap-sikap sosial akan tumbuh secara organis
menjadi kebebasan seksual dan psikologis.
Kewaspadaan untuk Feminisme Anarkis
Kelemahan yang
paling mencolok dari teori anarkisme sebagai suatu paham ialah
ketidakpercayaannya pada bentuk-bentuk otorianisme - karena ilusi
libertariannya tersebut. Pemujaannya yang berlebihan pada kebebasan individu
mengaburkan kenyataan bahwa kelas yang dihadapi adalah kelas yang menggalang
kekuatannya secara organisasional yang amat rapi dan ketat, di mana kelas
pemodal ini memiliki seperangkat hukum, tentara dan senjata sebagai alat-alat
kekerasan; (tentu saja mereka juga punya alat-alat ideologinya yang didukung
fasilitas dan dana besar : seni, ilmu, media massa, pendidikan dll). Anarkisme menolak
pengorganisiran secara kelas, sementara lawannya adalah kelas pemodal yang
begitu sadar untuk mengorganisir diri secara kelas pula.
Apa artinya ini?
Kaum anarkis dengan caranya tersebut telah membantu kelas kapitalis untuk
mencegah perlawanan teorganisir dari kelas pekerja.
Demikian pula teori
feminisme anarkis akan menumpulkan kesadaran perempuan yang akan terilusi pada
ide kebebasan yang anti dialektika ini. Ada
dua kesalahan pada teori ini : pertama pandangan bahwa kebebasan bisa
dipraktekkan dalam lapangan politik (jika mereka itu pun sepakat bahwa
perjuangan perempuan adalah politik) yang begitu keras menghadapi kekuatan
kelas bermodal. Mereka masih percaya pada individu-individu secara organis akan
menjawab tuntutan bersama untuk memukul secara 'bertenaga' ke jantung kekuatan
penguasa. Hanya persatuan yang kuatlah -sebuah kesatuan yang berfusi dengan
praktek demokratik (kami menyebutnya sentralisme demokratik) - yang bisa
mengarahkan perjuangan kepada tahap-tahap yang lebih maju. Kedua, apakah
secara hakekat ada kebebasan di masa kekuasaan modal seperti sekarang ini? Tak
ada. Kehendak seseorang secara individu selalu dibatasi oleh banyak hal,
terutama uang. Terdengar aneh jika masih berlaku ingin punya kebebasan pada
masa sekarang. Ekonomilah yang membatasi kelas pekerja, karena ekonomilah yang
jadi basis material sejarah yang dikuasai pemodal. Jika ilusi "kebebasan
organik" juga diterapkan dalam gerakan, apakah kelas pekerja akan
mempunyai kekuatan yang teguhdan kuat untuk menghancurkan kekuasaan kelas
penguasa? Artinya kita memang ingin menuju kebebasan umat manusia, tetapi dalam
praktek gerakan, ada harga yang harus dibayar. Inilah yang tak dimengerti oleh
kaum anarkis, termasuk para feminisnya.
Jadi, ada beberapa
point sebagai kesimpulan, ada beberapa kritik mendasar yang harus dilontarkan
pada berbagai aliran Feminisme di atas:
- Secara umum aliran-aliran itu adalah reduksi (pembiasan) dan distorsi (pengacauan) permasalahan yang sebenarnya. Permasalahan perempuan berkaitan dengan adanya kepemilikan pribadi dan kelas-kelas secara sosial di dalam masyarakat, tetapi, Feminisme borjuis memandang persoalan secara septong-sepotong. Inilah yang dilihat dari teori Feminisme liberal atau Posmo.
- Aliran-aliran itu juga salah dalam melihat konteks permasalahan, seperti pada Feminisme radikal yang memandang lelaki adalah musuh kaum perempuan atau Feminis Liberal yang melihat permasalahan perempuan pada kesalahan perempuan itu sendiri. Kesalahan dalam melihat permasalahan, akan bersifat kontraproduktif dalam perjuangan.
- Aliran-aliran itu memandang perjuangan perempuan secara sektoral dan "separatis" dan tidak ada keseriusan untuk bergabung dengan kekuatan sektor massa lain. Ini terjadi karena mereka berpijak pada kesalahan teoritik yang lebih mencerminkan pada masalah seksisme.
- Aliran-aliran itu masih mengilusikan tentang kebebasan individual dan ini menyebabkan pelemahan pada gerakan pembebasan perempuan dan rakyat secara terorganisir
- Lebih dari itu; aliran-aliran itu akan dimunculkan sebagai ideologi tanding bagi keberadaan ideologi progresif, yang tujuannya akan memoderasi gerakan dan pada akhirnya, untuk memenangkan ideologi kelas yang sedang berkuasa.
Oleh karena sebab
terakhir inilah maka aliran-aliran feminis yang telah dibahas di atas (kecuali
feminisme anarkis) hanya berlaku dominan di lapisan menengah dan atas dalam
masyarakat - lapisan yang dihuni oleh kelas borjuasi dan antek-anteknya.
Lalu, dengan apa
kita harus melihat persoalan ketertindasan perempuan ini?
Kami berpandangan
bahwa dalam melihat masalah ketertindasan perempuan, kita harus melihatnya
dengan basis analisa kelas*. Apa itu analisa kelas? Secara singkat
analisa kelas ialah teori yang mendekatkan akar permaslahan akibat munculnya
kelas-kelas di dalam masyarakat. Mengapa penindasan pada bagian terbesar umat
manusia terjadi, karena semua berpangkal pada dua kelas yang saling
berhadap-hadapan secara tak terdamaikan, yakni kelas pemilik modal dengan kelas
tak bermodal (proletar). Apa hubungannya dengan perempuan sebagai suatu
golongan sosial? Kelas Kapitalis berkepentingan untuk melakukan penindasan
perempuan karena perempuan dipandang sebagai "properti" lelaki,
sekaligus tenaga kerja yang murah. Kami akan menjelaskan secara historis pada
bagian berikut.
Awal
Ketertindasan Perempuan
Pada masa sebelum
munculnya kepemilikan pribadi dan kelas-kelas, kedudukan sosial perempuan dan
lelaki adalah setara**. Pada masa yang disebut sebagai masa Komunal
Primitif, dengan corak masyarakat yang disebut masyarakat pemburu dan pengumpul
(hunter-gatherer societies), produksi sosial ditata secara komunal dan hasilnya
dibagi rata. Inilah masa bentuk pertanian belum ditemukan. Memang ada pembagian
tugas yang berdasarkan umur atau jenis kelamin, tetapi semua orang melebur
dalam satu kelompok sosial. Tiada basis material untuk adanya hubungan sosial
yang eksploitatif.
Keadaan mulai
berubah, ketika cara pertanian mulai ditemukan. Kaum perempuan lah yang
sebenarnya mulai menemukan cikal bakal pertanian: mereka yang bertugas
mengumpulkan buah-buahan dan biji-bijian melihat bahwa benih dari tanaman yang
mati dapat menumbuhkan tanaman lain yang hidup. Cara atau proses ini bisa
dilakukan secara sengaja. Ditemukannya teknik pertanian -yang diikuti dengan
penemuan cara peternakan- segera mengubah sistem sosial dalam masyarakat.
Mulailah muncul keinginan untuk memperoleh dan menyimpan hasil yang
sebesar-besarnya. Keinginan itu pada mulanya baru berwujud dalam bentuk
kelompok sehingga terbentuklah suku-suku, klan atau marga; tetapi lama kelamaan
keinginan tersebut mewujud dalam bentuk individualistik.
Pada masa munculnya
suku-suku, manusia menemukan cara untuk memperbesar hasil produksi pangan
dengan cara ekstensifikasi, yakni memperbesar jumlah orang yang bekerja di
bidang pertanian. Semakin banyak orang yang bekerja, maka akan semakin
banyaklah lahan yang bisa dikerjakan, otomatis, semakin besarlah pula hasil
yang didapat. Cara apa yang bisa dilakukan untuk memperoleh tenaga kerja yang
sebanyak-banyaknya? Caranya ialah, perempuan sebagai kunci reproduksi, digeser
perannya sebagai "pemroduksi" anak. Inilah masa sistem sosial yang
memaksa perempuan harus tinggal di rumah untuk membesarkan anak.
Lama-kelamaan,
sejalan dengan semakin besar hasil yang diproduksi, pola kepemilikan secara
suku bergeser menjadi kepemilikan pribadi. Peran perempuan semakin tergeser, ia
sekarang menjadi "properti" milik suami dan dijerambabkan ke dalam
sistem yang bernama keluarga. Sistem keluarga inilah yang semakin meminggirkan
peran perempuan, di mana peran perempuan hanya sebagai penghasil keturunan,
pemelihara anak dan melakukan pekerjaan-pekerjaan domestik (rumah tangga).
Mulailah suatu periode di mana ketertindasan perempuan dilembagakan dalam
sistem keluarga. Bahkan kata family (keluarga) asal mulanya dari bahasa Latin
yakni famulus yang berarti budak dan familia, yang berarti jumlah
keseluruhan budak yang dimiliki oleh seorang lelaki.
Pada epos
masyarakat berkelas, penguasa menciptakan institusi-institusi dan alat-alat
ideologi, seperti negara, militer, hukum bahkan sistem kepercayaan. Hal ini
tentunya menjadi sebab logis mengapa kelas pemodal memerlukan penindasan
terhadap perempuan baik dalam bentuk diskriminasi atau pemenjaraan peran,
karena perempuan dipandang sebagai bagian dari komoditi, juga adalah golongan
pekerja yang bisa dieksploitasi secara murah.
Feminisme
Sosialis dan Masa Depan Pembebasan Perempuan Lalu, apa itu Feminisme Sosialis?
Di atas, secara
singkat,telah dipaparkan secara historis asal muasal munculnya ketertindasan
perempuan. Adanya kepemilikan pribadi dan munculnya kelas-kelaslah -yang
dimulai dari ditemukannya pertanian, lalu peternakan- asal mulanya penindasan
terhadap perempuan. Lalu perempuan dipinggirkan perannya dalam bentuk keluarga.
Ini terus dilanggengkan dari munculnya masa feodalisme hingga kapitalisme.
Ideologi patriarkal -yakni pelestarian secara sosial dominasi lelaki dan
sebaliknya peminggiran peran dan kedudukan perempuan- terus dihidupkan, karena
memang menguntungkan.
Feminisme Sosialis
mencoba membongkar akar ketertindasan perempuan dan menawarkan ideologi
alternatif yakni: Sosialis. Penindasan terhadap perempuan tidak akan berakhir
selama masih terus diterapkannya sistem kapitalisme. Inilah yang dikatakan
sebagai peminggiran peran perempuan sebagai bagian dari produk sosial, politik
dan ekonomi yang berhubungan dengan keberadaan kapitalisme sebagai suatu
sistem. Inilah penindasan yang berakar pada keberadaan kelas-kelas dalam
masyarakat. Pada awalnya, Friedrich Engels yang menjelaskan dalam buku klasik The
Origin of the Family, Private Property and the State (1884). Keterpurukan
perempuan bukan karena perkembangan teknologi, bukan karena perempuan lemah
secara mental dan tenaga (sehingga harus dilindungi oleh lelaki), bukan karena
sebab-sebab yang lain; tetapi karena munculnya kelas.
Masalah penindasan
perempuan tidak beridiri sendiri, tetapi merupakan satu kesatuan dalam sistem
yang saling berkaitan Perjuangan pembebasan perempuan hanya berhasil ketika
sistem kepemilikan pribadi yang memerlukan secara logis penindasan
terhadap perempuan, berhasil dihancurkan dan lalu berhasilnya transformasi
sosial masyarakat yang menghancurkan kelas-kelas, dan penguasaan alat-alat
produksi pada segelintir orang untuk diserahkan dan dikelola secara sosial.
Inilah masyarakat sosialis: suatu masyarakat dimana ideologi patriarkal secara
logis tak diperlukan, di mana perbudakan perempuan di dalam keluarga harus
dihapuskan, perempuan terlibat dalam proses produksi secara bersama-sama dan
memecahkan setiap permasalahan masyarakat secara bersama-sama pula..
Pada prakteknya,
perjuangan pembebasan perempuan tak bisa dipisahkan dari perjuangan Sosialisme;
karena secara sistematis Kapitalisme dengan alat-alat ideologi dan alat-alat
kekerasannya, melakukan penindasan pada semua sektor masyarakat. Kapitalisme
secara frontal memerlukan penindasan terhadap pekerja (sehingga seorang buruh
perempuan, harus mengalami dua lapis penindasan : baik sebagai buruh, maupun
sebagai perempuan) , memerlukan perusakan lingkungan hidup, memerlukan rasisme,
memerlukan seni dan hiburan yang membodohkan masyarakat dan memerlukan praktek
Neoliberalisme dan Imperialisme sebagai jalan keluar dari krisis yang terus
melilitnya. Inilah contoh-contoh yang menjelaskan mengapa perjuangan perempuan
harus dilakukan dengan persatuan yang kokoh dengan berbagai sektor masyarakat
lain, utamanya dengan kelas pekerja. Perjuangan perempuan tak bisa terpisah
secara sektoral dan eksklusif, karena akan melemahkan persatuan kokoh dari
masyarakat yang tertindas.
Perjuangan
perempuan memang terus mengagendakan masalah-masalah penindasan yang dihadapi
perempuan terkini yang selintas terdengar sektoral, seperti masalah gender,
kekerasan dan diskriminasi seks, tetapi semua itu dilakukan dengan cara
membongkar akar ketertindasan perempuan yakni sistem kapitalisme. Perjuangan
perempuan juga harus terlibat aktif dalam gerakan-gerakan yang menjadi
permasalahan umat manusia secara umum misal: lingkungan hidup, diskriminasi ras
atau Neoliberal.
Secara ringkas bisa
dikatakan: perjuangan Sosialisme tak bisa dipisahkan dengan perjuangan
pembebasan perempuan dan dengan keteguhan di dalam persatuan masyarakat yang
terorganisirlah pembebasan perempuan sejati akan tercapai, yakni ketika
masyarakat Sosialis telah tercipta.****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar